EKOTEOLOGI JADI SOROTAN DALAM WORKSHOP MAHASISWA CINTA LINGKUNGAN

EKOTEOLOGI JADI SOROTAN DALAM WORKSHOP MAHASISWA CINTA LINGKUNGAN

[MAJENE] Isu lingkungan kini semakin mendapat perhatian dalam dunia akademik Islam. Hal tersebut tercermin dalam kegiatan yang mempertemukan mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) STAIN Majene dengan sejumlah akademisi dari Yogyakarta untuk mendiskusikan berbagai pendekatan baru dalam studi Al-Qur’an.

Dalam forum akademik yang berlangsung pada Senin (8/6/2026), peserta diajak untuk melihat bahwa penelitian Al-Qur’an tidak hanya berkutat pada persoalan penafsiran teks. Beragam perspektif, seperti ekoteologi, antropologi, kajian manuskrip, hingga living Qur’an, diperkenalkan sebagai peluang riset yang relevan dengan dinamika masyarakat modern.

Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama P3M STAIN Majene dan Prodi IAT. Kepala P3M, Muh. Ilham Usman mengatakan bahwa kehadiran para akademisi dari Yogyakarta, yakni Ahmad Rafiq, S.Ag., M.A., Ph.D. (Wadir PPS UIN Sunan Kalijaga), Dr. Phil. Munirul Ikhwan, M.A. (Ketua Prodi S3 UIN Sunan Kalijaga), Dr. Najib Kailani, MA (Ketua Prodi S2 UIN Sunan Kalijaga), dan Dr. Suhadi Cholil, MA (CRCS UGM Yogyakarta), UNU Yogyakarta dan UGM, dimanfaatkan sebagai sarana berbagi pengalaman akademik dengan mahasiswa yang tengah mempersiapkan diri untuk memasuki dunia penelitian.

Salah satu pembahasan yang menarik perhatian peserta adalah konsep ekoteologi, yaitu upaya memahami hubungan manusia, agama, dan lingkungan melalui perspektif keislaman. Dalam sesi ini dibahas bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi dasar pembentukan kesadaran ekologis di tengah meningkatnya berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di Indonesia.

Selain itu, peserta juga memperoleh gambaran mengenai perkembangan studi living Qur’an, sebuah pendekatan yang menempatkan Al-Qur’an sebagai bagian dari praktik kehidupan masyarakat. Pendekatan ini membuka peluang penelitian yang tidak hanya berfokus pada teks, tetapi juga pada cara masyarakat memahami, memanfaatkan, dan menghadirkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kajian manuskrip dan hermeneutika turut menjadi bagian penting dalam diskusi. Para pemateri menjelaskan bahwa tradisi intelektual Islam menyimpan banyak sumber pengetahuan yang masih dapat dieksplorasi melalui penelitian naskah-naskah klasik. Di sisi lain, hermeneutika dipandang sebagai salah satu perangkat untuk membaca proses penafsiran secara lebih kritis dan kontekstual.

Perspektif antropologis juga mendapat perhatian dalam forum tersebut. Melalui pendekatan ini, Al-Qur’an dipahami bukan hanya sebagai kitab suci yang dibaca, melainkan juga sebagai unsur yang membentuk ekspresi budaya umat Islam. Berbagai praktik sosial yang berkaitan dengan mushaf dan tradisi keagamaan menjadi contoh bagaimana teks suci berinteraksi dengan realitas kehidupan masyarakat.

Menurut penyelenggara, Ketua Prodi IAT, Muhammad Nur Murdan, mengatakan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk memperluas horizon akademik mahasiswa sekaligus memperkenalkan berbagai kecenderungan baru dalam studi Al-Qur’an. Mahasiswa didorong untuk mengembangkan penelitian yang tidak hanya kuat secara teoritis, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman.

Melalui pertemuan ini, STAIN Majene menegaskan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Penguatan kapasitas riset mahasiswa menjadi salah satu langkah penting untuk melahirkan kajian Al-Qur’an yang lebih kontekstual, multidisipliner, dan berdaya guna bagi kehidupan sosial maupun lingkungan. [MIU]