[Rappang Barat, Polewali Mandar] — Mahasiswa KKN Kolaboratif Angkatan VII STAIN Majene dan UIN Sunan Ampel Surabaya melaksanakan workshop program kerja pengolahan limbah rumah tangga menjadi ecoenzyme di Balai Desa Rappang Barat, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh empat kepala dusun di Desa Rappang Barat, yakni Kepala Dusun Rappang, Sila-Sila, Curede, dan Tangnga-Tangnga. Turut hadir dalam kegiatan tersebut para kader, ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT), perangkat desa, serta Ketua TP PKK Kecamatan Mapilli, Ny. Nur Ezza Zasmi.
Workshop ini menjadi salah satu bentuk pengembangan program kerja KKN yang berbasis pada pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD). Program tersebut berangkat dari hasil observasi mahasiswa terhadap potensi aset lingkungan yang terdapat di Desa Rappang Barat, khususnya limbah rumah tangga yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Foto 1. Mahasiswa KKN Kolaboratif bersama perangkat desa, kader, KWT, dan masyarakat Desa Rappang Barat dalam kegiatan Workshop Program Ecoenzyme di Balai Desa Rappang Barat, Kamis (13/8/2026).
Dorong Masyarakat Memanfaatkan Limbah Rumah Tangga
Dalam sambutannya, Ketua TP PKK Kecamatan Mapilli, Ny. Nur Ezza Zasmi mengajak masyarakat untuk memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan tersebut agar tidak berhenti pada saat workshop berlangsung.
“Ibu-ibu, bapak-bapak, mohon dimanfaatkan dengan baik ilmu terkait ecoenzyme dari adik-adik KKN ini, terlebih nanti ada sesi praktik bersama, sehingga harapannya bapak-ibu bisa menerapkannya di rumah masing-masing dan berkelanjutan,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi penekanan penting dalam pelaksanaan workshop bahwa kegiatan KKN tidak hanya diarahkan pada pelaksanaan kegiatan sesaat, tetapi juga diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk melanjutkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh secara mandiri.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Rappang Barat, Aco Alimuddin. Ia menilai pelaksanaan workshop kali ini memiliki karakter yang berbeda dibandingkan dengan kegiatan KKN sebelumnya.
“Biasanya setiap KKN yang ada di Rappang Barat, dalam penyampaian materi terkait workshop selalunya mengundang pemateri dari luar. KKN kali ini berbeda karena mereka sendiri yang akan menyampaikan materinya,” ungkapnya.
Menurutnya, mahasiswa KKN perlu memahami dan menguji terlebih dahulu program yang akan diberikan kepada masyarakat sebelum program tersebut dilaksanakan. Ia juga berharap kolaborasi antara mahasiswa KKN dan masyarakat dapat terus berlangsung meskipun masa pengabdian mahasiswa telah berakhir.
“Tentu mereka harus tahu dulu dan uji coba dulu sebelum di-workshop-kan. Semoga kolaborasi ini bisa terus berkelanjutan walaupun nantinya KKN mereka selesai, dan produk ecoenzyme ini bisa dimanfaatkan betul oleh warga Rappang Barat untuk pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi produk guna manfaat,” lanjut Aco Alimuddin.
Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai Guna
Workshop kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh mahasiswa KKN UIN Sunan Ampel Surabaya, Nurudin Zanki. Materi menjelaskan mengenai pengertian ecoenzyme, bahan yang dapat digunakan, proses pembuatan, tahapan fermentasi, hingga pemanfaatan ecoenzyme setelah melalui proses fermentasi.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik bersama. Peserta secara langsung mempraktikkan proses pembuatan ecoenzyme menggunakan bahan-bahan organik yang tersedia.
Melalui praktik tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga pengalaman langsung dalam mengolah limbah organik menjadi produk yang dapat dimanfaatkan. Produk hasil praktik kemudian dibawa pulang oleh peserta untuk dilanjutkan proses fermentasinya hingga masa panen sekitar tiga bulan.
Program ecoenzyme ini bermula dari pemetaan aset yang dilakukan mahasiswa KKN di Desa Rappang Barat. Limbah rumah tangga, khususnya limbah organik, selama ini masih banyak yang berakhir dengan cara dibuang begitu saja atau dibakar. Kondisi tersebut kemudian dilihat sebagai peluang untuk menghadirkan inovasi pengelolaan limbah yang lebih bermanfaat.
Melalui pendekatan ABCD, mahasiswa tidak hanya melihat persoalan limbah sebagai masalah, tetapi juga melihatnya sebagai aset yang dapat diolah dan dikembangkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.
Lebih jauh, program ini diharapkan tidak berhenti pada aspek lingkungan. Pemanfaatan limbah organik menjadi ecoenzyme juga diharapkan dapat membuka peluang pengembangan produk yang memiliki nilai ekonomi sehingga dalam jangka panjang mampu menjadi salah satu alternatif penguatan ekonomi masyarakat Desa Rappang Barat.
Pelaksanaan workshop berlangsung dengan lancar dan mendapat respons positif dari masyarakat. Keterlibatan perangkat desa, kepala dusun, kader, KWT, serta masyarakat menjadi modal penting bagi keberlanjutan program setelah masa KKN berakhir.
Dengan demikian, program ecoenzyme menjadi salah satu bentuk nyata semangat KKN Kolaboratif Angkatan VII STAIN Majene dan UIN Sunan Ampel Surabaya dalam mengembangkan potensi lokal melalui pendekatan berbasis aset, sekaligus membangun kesadaran masyarakat bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah dapat diolah menjadi sumber daya yang bernilai guna.
[MIU]